Google_plus Pinterest Vimeo RSS
  • CS 1: 08971979095
    CS 2: 0895401538547
  • Instagram
  • Menguak Sejarah Benteng Vredeburg Jogja (Part 2)

    Menguak Sejarah Benteng Vredeburg Jogja
    Menguak Sejarah Benteng Vredeburg Jogja
    Menguak Sejarah Benteng Vredeburg Jogja—
    Benteng Vredeburg adalah salah satu ikon wisata Kota Yogyakarta. Letaknya berada di kilometer nol (Km 0), berdekatan dengan Kraton Yogyakarta. Tempat ini memiliki kisah sejarah yang secara langsung berhubungan dengan perkembangan Kesultanan Jogja, karena awal pembangunannya memang bertujuan sebagai pusat pengintaian dan pengendalian kesultanan oleh Belanda.

    Kali ini Hostel Jogja ID ingin mengenalkan sisi historis dari Museum Khusus Perjuangan Nasional ini. Mulai dari awal pembangunan, perubahan hak milik dan alih fungsi, hingga kini menjadi salah satu destinasi wisata bersejarah di Yogyakarta. Artikel ini merupakan Part 2 dari keseluruhan artikel Menguak Sejarah Benteng Vredeburg Jogja. Untuk Part 1 bisa kamu cek linknya di bagian akhir artikel ini.

    Masa Jepang, Markas Kempeitei—1942 

    Melalui Perjanjian Kalijati, akhirnya Belanda menyerahkan kekuasaan atas wilayah Indonesia kepada Jepang. Di Yogyakarta sendiri, Jepang mengambil alih gedung-gedung penting, termasuk juga Benteng Vredeburg. Benteng Vredeburg menjadi salah satu pusat kekuatan tentara Jepang, selain di Kotabaru. Di Benteng ini, Pasukan Kempeitei yang merupakan tentara pilihan yang terkenal keras dan kejam bermarkas. 

    Selain sebagai marakas pasukan, Benteng Vredeburg juga digunakan sebagai tempat tahanan tawanan perang dan pemimpin-pemimpin pemberontak. Selain itu juga difungsikan sebagai gudang persenjataan pusat di wilayah Yogyakarta, tempat menyimpan persenjataan kiriman dari Semarang sebelum kemudian didistribusikan. 

    Kemerdekaan Indonesia dan Perebutan Benteng—1945 

    Setelah kemerdekaan diproklamasikan, Sri Sultan Hamengkubuwono IX menyatakan dukungan atas berdirinya negara baru, Negara Republik Indonesia. Hal ini memicu semangat rakyat Yogyakarta dan mengakibatkan berbagai aksi spontan seperti pengibaran Bendera Merah Putih, perampasan gedung dan pelucutan senjata Jepang. Dan Benteng Vredeburg, setelah lama dikuasai para penjajah, akhirnya dapat direbut dan dikuasai oleh Indonesia. 

    Setelah itu Benteng Vredeburg tetap digunakan sebagai asrama dan markas pasukan, dan juga sebagai gudang logistik dan persenjataan. Lalu pada tahun 1946 pemerintah memfungsikan rumah sakit di dalam benteng, untuk digunakan oleh korban tentara dan keluarganya. Benteng ini juga sempat digunakan untuk menahan beberapa pemberontak seperti Moh. Yamin, Tan Malaka, dan Soedarsono. 

    Pada tahun 1948 Belanda melakukan Agresi Militer II. Benteng Vredeburg menjadi salah satu target pengeboman pesawat-pesawat Belanda, hingga kantor Tentara Keamanan Rakyat di dalamnya hancur. Akhirnya Belanda menguasai kembali Benteng Vredeburg dan menggunakannya sebagai markas Dinas Rahasia Belanda dan asrama tentara. Selain itu Belanda juga menyimpan senjata berat seperti Tank, Panser, dan kendaraan militer lain di dalam benteng. 

    TNI dan rakyak pejuang berhasil menguasai kembali Benteng Vredeburg dan bangunan lainnya pada saat Serangan Umum 1 Maret 1949. Setelah 6 jam Yogyakarta dikuasai penuh oleh TNI dan rakyat, akhirnya pasukan mundur dan Benteng Vredeburg kembali ditinggalkan karena Belanda mendapat pasukan tambahan yang datang dari Magelang. 

    Indonesia baru benar-benar berhasil menguasai Benteng Vredeburg kembali setelah Belanda meninggalkan Indonesia. Lalu benteng digunakan sebagai tempat tahanan politik pada masa insiden G 30 S tahun 1965, di bawah pengawasan Kementrian Pertahanan dan Keamanan. 

    Dari Benteng Menjadi Museum—1992 

    Pada 1976 sempat diadakan studi kelayakan bangunan terhadap Benteng Vredeburg, yang menghasilkan keputusan pemugaran bekas benteng tersebut. Kemudian pada tahun 1980 Benteng Vredeburg diserahkan kepada Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan untuk dimanfaatkan. 

    Benteng Vredeburg sempat digunakan sebagai ajang Jambore Seni, Pendidikan dan Pelatihan Dodiklat POLRI, dan masih sempat juga digunakan seabagi markas TNI, sebelum akhirnya ditetapkan sebagai cagar budaya pada tahun 1981. Lalu pada tahun 1984 Kemendikbud mengalihfungsikan Benteng Vredeburg sebagai Musem Perjuangan Nasional. Sri Sultan Hamengkubuwono IX pun mengizinkan pemugaran dan perubahan tata ruang gedung-gedung di dalam benteng untuk kebutuhan museum. 

    Dan akhirnya, tahun 1992 secara resmi Benteng Vredeburg menjadi Museum Khusus Perjuangan Nasional dengan nama Museum Benteng Yogyakarta seperti yang bisa kita kunjungi sampai sekarang. 

    Lain kali kamu singgah di Yogyakarta, cobalah sekali-sekali mengunjungi Musem Benteng ini, melihat bagaimana benteng yang berdiri semenjak adanya Kesultanan Yogyakarta dulu hingga menjadi museum kebanggaan Indonesia sekarang. Sambil melihat-lihat arsitektur bangunan, tembok yang mengelilingi, dan berbagai pameran barang-barang sejarah di dalamnya, ingat kembali bagaimana kisah Benteng yang awalnya hanya tembok tanah liat dan bangunan bambu ini menjelma menjadi benteng kokoh yang diperebutkan, hingga akhirnya menjadi tempat menyimpan sejarah perjuangan di tanah Jogja. 

    Kamu belum sempat membaca Part 1? Kalau belum kamu bisa artikelnya di Menguak Sejarah Benteng Vredeburg Jogja (Part 1)

    Kamu sedang membaca artikel tentang Menguak Sejarah Benteng Vredeburg Jogja (Part 2) dan kamu bisa menemukan artikel Menguak Sejarah Benteng Vredeburg Jogja (Part 2) ini dengan url https://www.hosteljogjaid.com/2018/11/menguak-sejarah-benteng-vredeburg-jogja-2.html, kamu boleh menyebarluaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel Menguak Sejarah Benteng Vredeburg Jogja (Part 2) ini sangat bermanfaat bagi teman-temanmu,namun tolong cantumkan link Menguak Sejarah Benteng Vredeburg Jogja (Part 2) sebagai sumbernya ya!.